Relasi Etos Kerja dan Doa dalam Kehidupan seorang Muslim
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
BEKERJA dan doa merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan seorang muslim. Keduanya bagai mata uang yang saling melengkapi satu sama lain. Dalam Islam bekerja bukan sekadar aktivitas duniawi untuk memenuhi kebutuhan hidup, melainkan juga bentuk pengabdian jika dilakukan dengan niat yang benar. Demikian pula doa, bukan hanya ucapan permohonan, tetapi wujud ketundukan dan pengharapan seorang hamba kepada Rabb-nya. Setiap pekerjaan yang dilakukan seorang muslim nilai Allah swt.
Allah SWT berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 105).
Menurut Imam Ibnu Katsir, setiap amal kebaikan dan keburukan seseorang kelak pada hari kiamat akan dilihat Allah swt, Rasul dan orang-orang beriman. Sebagaimana firman Allah SWT.
“Pada hari itu kamu dihadapkan kepada Tuhanmu, tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi bagi Allah swt.” QS. Al-Haqqah: 18. (Tafsir Al-Qur’ân Al-Azhîm, 4/209)
Dalam Islam, bekerja memiliki nilai ibadah ketika dilakukan dengan penuh tanggung jawab, kejujuran, dan niat untuk mencari ridha Allah. Seorang yang bekerja untuk menafkahi dirinya dan keluarganya termasuk dalam kategori amal shaleh. Bahkan, Rasulullah mengajarkan bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, yang menunjukkan kemuliaan orang yang berusaha dan mandiri. Oleh karena itu, bekerja dengan sungguh-sungguh adalah bagian dari ketaatan.
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَالْيَدُ الْعُلْيَا هِيَ الْمُنْفِقَةُ وَالسُّفْلَى هِيَ السَّائِلَةُ
Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw bersabda:“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan yang di atas adalah yang memberi, sedangkan tangan yang di bawah adalah yang meminta.”(HR. Bukhari)
Ali Al-Qari berkata: Memberikan harta kepada kepada orang fakir merupakan jalan yang mendekatkan diri kepada Allah swt. (Mirqotul Mafatih Syarhu Misyaktul Mashabih, 4/305) Hadis ini mengajarkan bahwa bekerja dan memberi adalah bentuk kemuliaan, sedangkan meminta hanya dibolehkan dalam kondisi terpaksa. Hal ini sejalan dengan prinsip bahwa usaha (bekerja) dan kepedulian sosial merupakan bagian dari ibadah kepada Allah.
Namun, usaha semata tidaklah cukup tanpa disertai doa. Doa adalah pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan, sedangkan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Seorang muslim diperintahkan untuk berusaha maksimal, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah melalui doa dan tawakal. Di sinilah letak keseimbangan antara ikhtiar dan ketergantungan kepada Tuhan.
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ أُرْسِلُ نَاقَتِي وَأَتَوَكَّلُ أَمْ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ قَالَ: اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
Dari Anas bin Malik, ia berkata: Seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah aku lepaskan untaku lalu aku bertawakal, atau aku ikat lalu bertawakal?” Beliau menjawab: “Ikatlah (untamu), lalu bertawakallah.” (HR. Tirmizi)
Hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ini menegaskan prinsip penting dalam Islam, yaitu keseimbangan antara ikhtiar (usaha) dan tawakal. Rasulullah saw tidak membenarkan sikap pasrah tanpa usaha, melainkan memerintahkan untuk melakukan sebab terlebih dahulu, seperti mengikat unta, baru kemudian bertawakal kepada Allah.
Ketika bekerja diiringi dengan doa, hati menjadi lebih tenang dan penuh harapan. Seseorang tidak mudah putus asa saat menghadapi kegagalan, karena ia yakin bahwa Allah memiliki rencana terbaik. Sebaliknya, bekerja tanpa doa dapat membuat hati menjadi keras dan sombong, seolah-olah keberhasilan semata-mata karena usaha pribadi. Doa memiliki peran yang sangat penting dalam bekerja, karena ia menjadi penghubung antara usaha manusia dengan pertolongan Allah.
Dalam Islam, bekerja bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga ibadah yang membutuhkan kekuatan lahir dan batin. Di sinilah doa menjadi penopang utama agar pekerjaan yang dilakukan tidak hanya menghasilkan secara duniawi, tetapi juga bernilai di sisi Allah.
Doa menunjukkan ketergantungan seorang hamba kepada Allah. Sehebat apa pun usaha yang dilakukan, manusia tetap memiliki keterbatasan. Dengan berdoa, seseorang mengakui bahwa keberhasilan bukan semata-mata hasil kerja kerasnya, melainkan karena izin dan pertolongan Allah. Hal ini menjaga hati dari sifat sombong dan merasa paling mampu.
Allah SWT berfirman:
وَقَالَ رَبَّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.” (QS. Ghafir: 60)
Ayat ini menunjukkan bahwa doa membuka pintu kemudahan, kelapangan rezeki, dan keberhasilan dalam bekerja. Tanpa doa, usaha bisa terasa berat dan kurang berkah.
Doa memberikan ketenangan hati. Orang yang bekerja sambil berdoa akan merasa lebih tenang karena ia menyerahkan hasil kepada Allah. Ketika berhasil, ia bersyukur. Ketika gagal, ia bersabar. Dengan demikian, doa menjadi sumber kekuatan mental dalam menghadapi berbagai tantangan pekerjaan.
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
Dari Nu'man bin Basyir, ia berkata: Rasulullah saw bersabda:“Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi)
Dengan berdoa sebelum, saat, dan setelah bekerja, aktivitas sehari-hari berubah menjadi amal ibadah yang bernilai pahala.
Dengan demikian, bekerja dan doa adalah dua sisi dari satu kesatuan ibadah. Bekerja adalah bentuk usaha lahiriah, sedangkan doa adalah kekuatan batiniah. Keduanya harus berjalan beriringan agar kehidupan menjadi seimbang, penuh keberkahan, dan bernilai di sisi Allah SWT. ***

Tulis Komentar